Ini wajahku
buruk rupa
bengis
lalim
menyedihkan
Mana wajahmu?
Tunjukkan padaku wajah di balik sinaran itu
Lihat celah itu, celah yang bisa kutembus
Kan kurobek celah rapuh itu,
biar kulihat luka-lukamu
berapa puluh jahitan yang dokter buat di wajahmu?
Aku ini baik hati
Siapa tahu kita bisa saling mencakar,
lalu menertawakan kebodohan yang barusan kita lakukan.
Pesan wanita
pada lelakinya yang sedang menanti waktu bersua
Tak usah kau mencari bayangku
Biar sekali-kali kau merindu, mencandu seperti pria
gondrong di sudut jalan dekat terminal yang sedang menghisap ganja
Malam ini dingin
Hujan turun sedari dirimu masih terlelap dibuai
bunga-bunga tidur
Purnama tak bisa memamerkan pakaiannya yang dipinjamnya dari mentari
Padahal tadi ia mendapatkannya dengan paksa
Seharian bulan ribut dengan mentari,
Mentari ingin tampil gagah, walau gorden merah sudah
menutup panggung yang sudah uzur dimakan rayap
Tetapi purnama ngotot pinjam pakaian kesayangan
mentari.
Percuma tenaganya terbuang.
Merindulah
Seperti esok akan ada emas yang akan kau peroleh di
ujung pelangi
Ingatlah diriku, seakan aku akan bangun dalam lingkar
dekapmu di suatu pagi yang sejuk
Jangan menanti tukang pos yang membawa balasan surat
cinta dariku,
Biar kau tahu rasanya menunggu
Mendamba
Mencinta
Dalam sepi
Mengembun bersama embun pagi
Gelap
Di sana Ia hadir menyalakan pelita di kaki dian
Terang
Aku bersua dengan-Nya.
Sinaran wajah-Nya adalah rahmat
Hangat ku didekap, menjaga dari yang jahat.
Ini kasih
abadi
luhur
suci
bukan maya
Dalam gulita kutemukan
Ini kasih
Ia tak beranjak
Ia ada dimana-mana, tapi bisakah kau temukannya
di tempat yang paling dekat denganmu?
Tak perlu ku berlari menyepi
mengubur diri dalam kehampaan
Aku bisa temukannya
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
Esok, ketika fajar telah bersiaga
Ia hembuskan nafas baru, segar, diramu dengan dingin embun subuh
Aku masih terpejam di balik selimut
Dibisikkannya di telingaku: selamat pagi
Ini kasih
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
Di sana Ia hadir menyalakan pelita di kaki dian
Terang
Aku bersua dengan-Nya.
Sinaran wajah-Nya adalah rahmat
Hangat ku didekap, menjaga dari yang jahat.
Ini kasih
abadi
luhur
suci
bukan maya
Dalam gulita kutemukan
Ini kasih
Ia tak beranjak
Ia ada dimana-mana, tapi bisakah kau temukannya
di tempat yang paling dekat denganmu?
Tak perlu ku berlari menyepi
mengubur diri dalam kehampaan
Aku bisa temukannya
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
Esok, ketika fajar telah bersiaga
Ia hembuskan nafas baru, segar, diramu dengan dingin embun subuh
Aku masih terpejam di balik selimut
Dibisikkannya di telingaku: selamat pagi
Ini kasih
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
(1)
Lihat guguran daun-daun itu
menguningkan aspal
Sejenak mereka membayangkan kehidupan setelah diterbangkan angin dari ranting-ranting yang merindu kehilangan
Biasanya mereka bersandar pada ibu pohon
menceritakan ribuan pagi dan senja dalam triwarna
kadang menertawakan anak-anak Adam
kadang menyanyi bersama burung-burung gelatik yang bertengger
Besok bulan September. Katamu.
Semalam kau ucapkan selamat tidur.
Satu kecup.
Kau antarkanku ke gerbang duniaku yang lain.
(2)
Semoga fajar menghadiahkan emas untukmu di bibir cakrawala
ketika kau membuka matamu di hari pertama bulan September,
kiranya matamu bersinar seperti jingga yang merekah dari awan-awan yang malu
Jiwamu jangan turut gugur bersama dedaunan pohon di depan rumahmu
Biar mereka menguning, terurai bersama tanah, menjadi ibu yang mengandung benih kehidupan
Ada kalanya pohon-pohon berduka, tapi jangan dirimu,
Kekasih, aku ingin melihat bunga-bunga bersemi di matamu esok.
Lihat guguran daun-daun itu
menguningkan aspal
Sejenak mereka membayangkan kehidupan setelah diterbangkan angin dari ranting-ranting yang merindu kehilangan
Biasanya mereka bersandar pada ibu pohon
menceritakan ribuan pagi dan senja dalam triwarna
kadang menertawakan anak-anak Adam
kadang menyanyi bersama burung-burung gelatik yang bertengger
Besok bulan September. Katamu.
Semalam kau ucapkan selamat tidur.
Satu kecup.
Kau antarkanku ke gerbang duniaku yang lain.
(2)
Semoga fajar menghadiahkan emas untukmu di bibir cakrawala
ketika kau membuka matamu di hari pertama bulan September,
kiranya matamu bersinar seperti jingga yang merekah dari awan-awan yang malu
Jiwamu jangan turut gugur bersama dedaunan pohon di depan rumahmu
Biar mereka menguning, terurai bersama tanah, menjadi ibu yang mengandung benih kehidupan
Ada kalanya pohon-pohon berduka, tapi jangan dirimu,
Kekasih, aku ingin melihat bunga-bunga bersemi di matamu esok.
bilur-bilur air kubiarkan menelanjangi tubuhku
membasuh resah
menyapu kotor
memadamkan api
mencairkan kutub
menyisipkan dingin dalam pori-pori
aku datang kembali
baru,
damai,
dan bahagia
dari akar rambut, ujung rambut, hingga kuku kaki.
di kamar mandi ini aku bertanya
untuk apa damai dan bahagia bersanding di kursi pelaminan
sedangkan di luar gedung pesta kulihat perang tak usai
sering orang bertanya, di mana kudapat damai dan bahagia
jawabannya?
di kamar mandi.
membasuh resah
menyapu kotor
memadamkan api
mencairkan kutub
menyisipkan dingin dalam pori-pori
aku datang kembali
baru,
damai,
dan bahagia
dari akar rambut, ujung rambut, hingga kuku kaki.
di kamar mandi ini aku bertanya
untuk apa damai dan bahagia bersanding di kursi pelaminan
sedangkan di luar gedung pesta kulihat perang tak usai
sering orang bertanya, di mana kudapat damai dan bahagia
jawabannya?
di kamar mandi.
Bungkamlah mulutku agar lidahku tak mengucap.
Tangan besimu boleh menggiringku ke bui gelap.
Wahai kau yang duduk angkuh di kursi kehormatan,
berapa emas kau dulang demi menyeret anak untuk meratap?
Sipirmu takkan melihat nanar dalam tatap
enggan gelap berdiri mantap
Dingin lantai ini erat membekap,
tapi kasih hangat mendekap.
Telanjur raga kau sekap
sukmaku lepas menembus atap
Maut menyusup celah jeruju dalam senyap
coba lucuti nyawa dalam kejap
Kedua mataku berjaga selagi terlelap
Menyulap maut jadi kudapan sedap
Lidah ini boleh kau putus hungga tak dapat aku mengecap.
Wahai kau yang duduk di singgasana reyot,
berapa lama lagi kau mengenyakkan diri di kursimu yang berayap?
Kakimu melangkah gagah, tapi melafal satu kata kau gagap.
Retorikamu mengasihi telinga-telinga yang haus,
namun lakumu sama seperti harimau kalap.
Mereka kau janjikan gerlap,
anak-anakmu lewati hari menggetap-getap.
Esok tiada lagi dirimu bercuap
karena dirimu hanya tinggal abu, sisa dari api dan asap.
27 Juli 2016, 00:24
Terima kasih @InrillianHF atas pencerahanmu. Kalau nggak ada kamu, puisi ini nggak ada judulnya. Danke :)
Tangan besimu boleh menggiringku ke bui gelap.
Wahai kau yang duduk angkuh di kursi kehormatan,
berapa emas kau dulang demi menyeret anak untuk meratap?
Sipirmu takkan melihat nanar dalam tatap
enggan gelap berdiri mantap
Dingin lantai ini erat membekap,
tapi kasih hangat mendekap.
Telanjur raga kau sekap
sukmaku lepas menembus atap
Maut menyusup celah jeruju dalam senyap
coba lucuti nyawa dalam kejap
Kedua mataku berjaga selagi terlelap
Menyulap maut jadi kudapan sedap
Lidah ini boleh kau putus hungga tak dapat aku mengecap.
Wahai kau yang duduk di singgasana reyot,
berapa lama lagi kau mengenyakkan diri di kursimu yang berayap?
Kakimu melangkah gagah, tapi melafal satu kata kau gagap.
Retorikamu mengasihi telinga-telinga yang haus,
namun lakumu sama seperti harimau kalap.
Mereka kau janjikan gerlap,
anak-anakmu lewati hari menggetap-getap.
Esok tiada lagi dirimu bercuap
karena dirimu hanya tinggal abu, sisa dari api dan asap.
27 Juli 2016, 00:24
Terima kasih @InrillianHF atas pencerahanmu. Kalau nggak ada kamu, puisi ini nggak ada judulnya. Danke :)
"Bagaimana rasanya mati?"
Suatu saat aku menanyakan pertanyaan itu pada diriku sendiri. Apakah seperti yang dikatakan Sirius Black pada Harry Potter: quicker than falling asleep—terasa lebih cepat daripada ketika terlelap? Akankah prosesnya terasa menyiksa, sehingga aku akan menjerit-jerit hingga semua orang yang di dekatku akan menutup telinga sambil membatin miris dan iba? Atau hanya seperti orang yang mengantuk: menguap sedikit, otot-otot mata tak lagi kuat membuka kelopak mata hanya demi melihat untuk yang terakhir kali, lalu tertidur begitu saja?
Bagaimana rasanya mati?
Aku belum pernah melihat secara langsung seperti apa perjalanan manusia meninggalkan raganya yang fana. Bagaimana prosesnya? Seumur hidup, aku hanya pernah melihat hasil akhir. Sang raga dibalut dengan pakaian yang indah. Seikat bunga diselipkan dalam genggaman tangan raga yang telah ditinggal jiwa. Terkadang ada pula yang memasukkan benda-benda kesayangannya ke dalam peti: boneka, kalung kesayangan, kitab suci (yang nantinya semua itu takkan turut dikubur bersama jenazah). Terkadang aku melihat raga yang akan diantarkan ke dalam liang sedalam dua meter itu ditutup kain kafan. Lalu, raga yang telah lepas dari jiwanya itu diantarkan ke liang lahat dengan untaian doa, derai tangis di sana-sini, jerit pilu, kata-kata perpisahan yang dibuat dadakan (seringkali berisi cerita mengenai apa yang dialami bersama mendiang karena tidak tahu harus berkata apa), lantunan elegi, bunga tabur, dan air yang disiramkan seusai raga itu dibaringkan di pembaringan terakhirnya.
Aku ingin tahu rasanya, serta aku ingin tahu apa yang akan terjadi setelah jiwaku berpisah dengan ragaku. Aku juga ingin tahu apa yang dipikirkan orang-orang ketika aku mati.
Mungkin ada yang menangis, ada yang membisu, ada yang mencoba berdiri tegar, bahkan mungkin ada yang tersenyum senang atau tertawa setelah pemakamanku.
Aku ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan ketika aku pergi. Aku ingin mendengar dengan telingaku sendiri apa yang mereka katakan tentangku.
Bagaimana rasanya mati? Dengan cara apakah aku akan mati? Di manakah aku akan mati?
Akankah nyawaku melayang dalam sebuah tragedi mengenaskan? Atau aku akan mati konyol? Atau mungkin dalam tidur malamku?
Rahasianya ada pada Sang Khalik.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact