bahumu
tempatku berbagi bahagia
bahumu
tempatku membagi kisah tanpa cerita
ketika bibir tak dapat mengucap
bahumu
tempatku berpaling dari kenyataan-kenyataan yang sering tak pernah berkawan dengan ekspektasi
kini aku sedang berlari
berpacu dengan aral yang menggempur seakan inginkanku tuk segera mati tergilas roda-roda waktu
namun semuanya akan berhenti
seperti film yang dijeda
ketika aku berada dalam pelukmu
dan kepalaku bersandar di bahumu
dari sekian banyak "selamat pagi" yang masuk dan keluar dari telinga kiri ke telinga kanan
terus balik lagi telinga kanan ke telinga kiri
yang paling kusuka ialah yang keluar dari mulutmu
disingkapkannya selimut dari tubuhku
kemudian aku dipeluknya
"Yo, kemul e kok klengsreh ngene sih?"
kadang ia sedikit menggerutu padaku di pagi hari
entah semalam seperti apa aksi akrobatku di ranjang
kutarik lagi selimutku
lalu aku tidur lagi
itulah ucapan selamat pagi terindah
dari bibir indah ibunda keluar
ah, ibu
anakmu sudah makin besar, ya?
(1)
adakah lagi makna keabadian
selain sebagian dari jiwamu terperangkap dalam diriku
ketika kau tinggalkan aku dengan rentetan tanda tanya
adakah lagi makna keabadian
bila tiada lagi ragamu yang dapat kujamah dengan tanganku
adakah keabadian dirimu?
semua orang katakan bahwa akulah wujud dirimu yang hidup
namun tak sedikit pun aku mengenal engkau
(2)
selamat hari jadi
engkau selalu abadi dalam benakku
meski tak dapat aku merengkuhmu
engkau jauh
jauh disana
kata mereka
jarak antara surga dan dunia
hanyalah sebaris kata dalam doaku
benarkah demikian?
dalam lamun
aku mencarimu
dalam doa
aku mengetuk pintu surga
berharap engkau akan keluar
kembali padaku
dengan tangis
kuteriakkan namamu selalu
biar mereka telah melupakanmu
aku tak peduli
biar mereka menyeretku dari ingatan ini
aku kan bergeming
biar peluru menghunjam tubuhku
kan kusebut namamu
sebagai kata terakhir yang keluar dari mulutku
selamat hari jadi
kau kan selalu abadi
sepanjang waktu
selamanya
adakah lagi makna keabadian
selain sebagian dari jiwamu terperangkap dalam diriku
ketika kau tinggalkan aku dengan rentetan tanda tanya
adakah lagi makna keabadian
bila tiada lagi ragamu yang dapat kujamah dengan tanganku
adakah keabadian dirimu?
semua orang katakan bahwa akulah wujud dirimu yang hidup
namun tak sedikit pun aku mengenal engkau
(2)
selamat hari jadi
engkau selalu abadi dalam benakku
meski tak dapat aku merengkuhmu
engkau jauh
jauh disana
kata mereka
jarak antara surga dan dunia
hanyalah sebaris kata dalam doaku
benarkah demikian?
dalam lamun
aku mencarimu
dalam doa
aku mengetuk pintu surga
berharap engkau akan keluar
kembali padaku
dengan tangis
kuteriakkan namamu selalu
biar mereka telah melupakanmu
aku tak peduli
biar mereka menyeretku dari ingatan ini
aku kan bergeming
biar peluru menghunjam tubuhku
kan kusebut namamu
sebagai kata terakhir yang keluar dari mulutku
selamat hari jadi
kau kan selalu abadi
sepanjang waktu
selamanya
seperti daun-daun gugur di bulan September
menguning di dahan
jatuh
kembali ke pangkuan Gaia
perlahan
kuning memudar
serupa dengan bumi
cokelat
menghitam
menyatu dengan ibunda
mengandung
menjaga
mencipta
melahirkan
memelihara
begitu terus
tiada satupun yang akan tahu kisah-kisahku
menyaksikan anak-anak dunia merayakan kemegahan alam
warna, hitam dan putih
terang dan gelap
hidup dan mati
awal dan akhir
menguning di dahan
jatuh
kembali ke pangkuan Gaia
perlahan
kuning memudar
serupa dengan bumi
cokelat
menghitam
menyatu dengan ibunda
mengandung
menjaga
mencipta
melahirkan
memelihara
begitu terus
tiada satupun yang akan tahu kisah-kisahku
menyaksikan anak-anak dunia merayakan kemegahan alam
warna, hitam dan putih
terang dan gelap
hidup dan mati
awal dan akhir
Selamat tidur, anakku
Hujan sedari senja tadi menghapus terik tengah hari,
membuat gunung-gunung di sana telanjang tanpa sehelai kabut seperti pagi-pagi yang lalu.
Sisa-sisa dingin yang merobek kulit hendak mengantarmu menuju gerbang alam mimpi,
menghalau musuh-musuh pengganggu lelap di balik selimut tebalmu.
Anakku, jangan tergesa
Tataplah mataku dan genggamlah tanganku sebelum aku pergi lagi
"Ayah, aku takut," lirih kau katakan padaku.
Gadisku, tiada satupun makhluk kan berani menyibak kemulmu, mengguncang-guncang tubuh mungilmu dengan paksa tuk buatmu gelisah seperti semalam.
Titipkan lelah dan takutmu padaku, anakku. Aku tahu semalam kau lelah menangis karena monster-monster nakal itu.
Selamat tidur, anakku
Matikan lampu tidurmu dan tutup matamu menuju mimpi
Damai 'kan di sampingmu selalu
Haraplah esok kau dan aku masih bersua di rumah kecil kita, anakku
Aku merindukanmu
biar aku saja yang menikmatinya
Rinduku padamu kulinting seperti ganja, kuhisap hingga lupa daku akan paku-paku air es yang mengoyak kulitku.
Tahukah engkau wahai gadisku, aku tak pergi darimu.
Aku berjaga di sebelahmu.
Selalu.
Hujan sedari senja tadi menghapus terik tengah hari,
membuat gunung-gunung di sana telanjang tanpa sehelai kabut seperti pagi-pagi yang lalu.
Sisa-sisa dingin yang merobek kulit hendak mengantarmu menuju gerbang alam mimpi,
menghalau musuh-musuh pengganggu lelap di balik selimut tebalmu.
Anakku, jangan tergesa
Tataplah mataku dan genggamlah tanganku sebelum aku pergi lagi
"Ayah, aku takut," lirih kau katakan padaku.
Gadisku, tiada satupun makhluk kan berani menyibak kemulmu, mengguncang-guncang tubuh mungilmu dengan paksa tuk buatmu gelisah seperti semalam.
Titipkan lelah dan takutmu padaku, anakku. Aku tahu semalam kau lelah menangis karena monster-monster nakal itu.
Selamat tidur, anakku
Matikan lampu tidurmu dan tutup matamu menuju mimpi
Damai 'kan di sampingmu selalu
Haraplah esok kau dan aku masih bersua di rumah kecil kita, anakku
Aku merindukanmu
biar aku saja yang menikmatinya
Rinduku padamu kulinting seperti ganja, kuhisap hingga lupa daku akan paku-paku air es yang mengoyak kulitku.
Tahukah engkau wahai gadisku, aku tak pergi darimu.
Aku berjaga di sebelahmu.
Selalu.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact