Selamat tidur, anakku
Hujan sedari senja tadi menghapus terik tengah hari,
membuat gunung-gunung di sana telanjang tanpa sehelai kabut seperti pagi-pagi yang lalu.
Sisa-sisa dingin yang merobek kulit hendak mengantarmu menuju gerbang alam mimpi,
menghalau musuh-musuh pengganggu lelap di balik selimut tebalmu.
Anakku, jangan tergesa
Tataplah mataku dan genggamlah tanganku sebelum aku pergi lagi
"Ayah, aku takut," lirih kau katakan padaku.
Gadisku, tiada satupun makhluk kan berani menyibak kemulmu, mengguncang-guncang tubuh mungilmu dengan paksa tuk buatmu gelisah seperti semalam.
Titipkan lelah dan takutmu padaku, anakku. Aku tahu semalam kau lelah menangis karena monster-monster nakal itu.
Selamat tidur, anakku
Matikan lampu tidurmu dan tutup matamu menuju mimpi
Damai 'kan di sampingmu selalu
Haraplah esok kau dan aku masih bersua di rumah kecil kita, anakku
Aku merindukanmu
biar aku saja yang menikmatinya
Rinduku padamu kulinting seperti ganja, kuhisap hingga lupa daku akan paku-paku air es yang mengoyak kulitku.
Tahukah engkau wahai gadisku, aku tak pergi darimu.
Aku berjaga di sebelahmu.
Selalu.
Rindukah engkau akan rumah kecilmu?
Sendu hari-hariku tanpa suaramu yang memanggilku.
Kini sendu makin menusuk hatiku, merenggut seluruh kebahagiaan yang kupunya.
Tak rindukah engkau akan daku? Ingin kudengar cerita-ceritamu di rantau. Sedu sedan serta tawamu. Lama sudah kita tak bercerita di ruang makan.
Entah kapan terakhir aku mengecup keningmu, raja kecilku.
Aku rindu tuk membelaimu
dengan kedua mata kepalaku sendiri, ingin kulihat ketampanan dan gagah dirimu.
Maafkan aku tak dapat merengkuhmu dengan kedua tanganku. Jauh. Begitu juga dengan hatimu kini.
Ku bertanya di tiap sujudku, mengapa?
Kau akan pergi, tetapi jangan renggut terang yang kau tinggalkan untukku.
Dikau, raja kecil di rumahku dan akan selalu bertahta di sini.
Ya, di rumah ini,
dan di dalam hatiku.
Lahirkan kembali bahagia dalam diriku yang telah dihisap kehampaan.
Pulanglah, raja kecilku.
Sendu hari-hariku tanpa suaramu yang memanggilku.
Kini sendu makin menusuk hatiku, merenggut seluruh kebahagiaan yang kupunya.
Tak rindukah engkau akan daku? Ingin kudengar cerita-ceritamu di rantau. Sedu sedan serta tawamu. Lama sudah kita tak bercerita di ruang makan.
Entah kapan terakhir aku mengecup keningmu, raja kecilku.
Aku rindu tuk membelaimu
dengan kedua mata kepalaku sendiri, ingin kulihat ketampanan dan gagah dirimu.
Maafkan aku tak dapat merengkuhmu dengan kedua tanganku. Jauh. Begitu juga dengan hatimu kini.
Ku bertanya di tiap sujudku, mengapa?
Kau akan pergi, tetapi jangan renggut terang yang kau tinggalkan untukku.
Dikau, raja kecil di rumahku dan akan selalu bertahta di sini.
Ya, di rumah ini,
dan di dalam hatiku.
Lahirkan kembali bahagia dalam diriku yang telah dihisap kehampaan.
Pulanglah, raja kecilku.
Ini wajahku
buruk rupa
bengis
lalim
menyedihkan
Mana wajahmu?
Tunjukkan padaku wajah di balik sinaran itu
Lihat celah itu, celah yang bisa kutembus
Kan kurobek celah rapuh itu,
biar kulihat luka-lukamu
berapa puluh jahitan yang dokter buat di wajahmu?
Aku ini baik hati
Siapa tahu kita bisa saling mencakar,
lalu menertawakan kebodohan yang barusan kita lakukan.
buruk rupa
bengis
lalim
menyedihkan
Mana wajahmu?
Tunjukkan padaku wajah di balik sinaran itu
Lihat celah itu, celah yang bisa kutembus
Kan kurobek celah rapuh itu,
biar kulihat luka-lukamu
berapa puluh jahitan yang dokter buat di wajahmu?
Aku ini baik hati
Siapa tahu kita bisa saling mencakar,
lalu menertawakan kebodohan yang barusan kita lakukan.
Pesan wanita
pada lelakinya yang sedang menanti waktu bersua
Tak usah kau mencari bayangku
Biar sekali-kali kau merindu, mencandu seperti pria
gondrong di sudut jalan dekat terminal yang sedang menghisap ganja
Malam ini dingin
Hujan turun sedari dirimu masih terlelap dibuai
bunga-bunga tidur
Purnama tak bisa memamerkan pakaiannya yang dipinjamnya dari mentari
Padahal tadi ia mendapatkannya dengan paksa
Seharian bulan ribut dengan mentari,
Mentari ingin tampil gagah, walau gorden merah sudah
menutup panggung yang sudah uzur dimakan rayap
Tetapi purnama ngotot pinjam pakaian kesayangan
mentari.
Percuma tenaganya terbuang.
Merindulah
Seperti esok akan ada emas yang akan kau peroleh di
ujung pelangi
Ingatlah diriku, seakan aku akan bangun dalam lingkar
dekapmu di suatu pagi yang sejuk
Jangan menanti tukang pos yang membawa balasan surat
cinta dariku,
Biar kau tahu rasanya menunggu
Mendamba
Mencinta
Dalam sepi
Mengembun bersama embun pagi
Gelap
Di sana Ia hadir menyalakan pelita di kaki dian
Terang
Aku bersua dengan-Nya.
Sinaran wajah-Nya adalah rahmat
Hangat ku didekap, menjaga dari yang jahat.
Ini kasih
abadi
luhur
suci
bukan maya
Dalam gulita kutemukan
Ini kasih
Ia tak beranjak
Ia ada dimana-mana, tapi bisakah kau temukannya
di tempat yang paling dekat denganmu?
Tak perlu ku berlari menyepi
mengubur diri dalam kehampaan
Aku bisa temukannya
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
Esok, ketika fajar telah bersiaga
Ia hembuskan nafas baru, segar, diramu dengan dingin embun subuh
Aku masih terpejam di balik selimut
Dibisikkannya di telingaku: selamat pagi
Ini kasih
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
Di sana Ia hadir menyalakan pelita di kaki dian
Terang
Aku bersua dengan-Nya.
Sinaran wajah-Nya adalah rahmat
Hangat ku didekap, menjaga dari yang jahat.
Ini kasih
abadi
luhur
suci
bukan maya
Dalam gulita kutemukan
Ini kasih
Ia tak beranjak
Ia ada dimana-mana, tapi bisakah kau temukannya
di tempat yang paling dekat denganmu?
Tak perlu ku berlari menyepi
mengubur diri dalam kehampaan
Aku bisa temukannya
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
Esok, ketika fajar telah bersiaga
Ia hembuskan nafas baru, segar, diramu dengan dingin embun subuh
Aku masih terpejam di balik selimut
Dibisikkannya di telingaku: selamat pagi
Ini kasih
Kudapatinya bersemayam dalam relung sukma
dan di kamar tidurku.
(1)
Lihat guguran daun-daun itu
menguningkan aspal
Sejenak mereka membayangkan kehidupan setelah diterbangkan angin dari ranting-ranting yang merindu kehilangan
Biasanya mereka bersandar pada ibu pohon
menceritakan ribuan pagi dan senja dalam triwarna
kadang menertawakan anak-anak Adam
kadang menyanyi bersama burung-burung gelatik yang bertengger
Besok bulan September. Katamu.
Semalam kau ucapkan selamat tidur.
Satu kecup.
Kau antarkanku ke gerbang duniaku yang lain.
(2)
Semoga fajar menghadiahkan emas untukmu di bibir cakrawala
ketika kau membuka matamu di hari pertama bulan September,
kiranya matamu bersinar seperti jingga yang merekah dari awan-awan yang malu
Jiwamu jangan turut gugur bersama dedaunan pohon di depan rumahmu
Biar mereka menguning, terurai bersama tanah, menjadi ibu yang mengandung benih kehidupan
Ada kalanya pohon-pohon berduka, tapi jangan dirimu,
Kekasih, aku ingin melihat bunga-bunga bersemi di matamu esok.
Lihat guguran daun-daun itu
menguningkan aspal
Sejenak mereka membayangkan kehidupan setelah diterbangkan angin dari ranting-ranting yang merindu kehilangan
Biasanya mereka bersandar pada ibu pohon
menceritakan ribuan pagi dan senja dalam triwarna
kadang menertawakan anak-anak Adam
kadang menyanyi bersama burung-burung gelatik yang bertengger
Besok bulan September. Katamu.
Semalam kau ucapkan selamat tidur.
Satu kecup.
Kau antarkanku ke gerbang duniaku yang lain.
(2)
Semoga fajar menghadiahkan emas untukmu di bibir cakrawala
ketika kau membuka matamu di hari pertama bulan September,
kiranya matamu bersinar seperti jingga yang merekah dari awan-awan yang malu
Jiwamu jangan turut gugur bersama dedaunan pohon di depan rumahmu
Biar mereka menguning, terurai bersama tanah, menjadi ibu yang mengandung benih kehidupan
Ada kalanya pohon-pohon berduka, tapi jangan dirimu,
Kekasih, aku ingin melihat bunga-bunga bersemi di matamu esok.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact